RIZQI39INDRA
Akhir Kisah Tanpa Berpisah
May 5, 2021 / Rizqi Septu
Pemilihan dari judul di atas bukanlah tanpa arti, “Akhir Kisah Tanpa Berpisah” mencerminkan situasi pada saat ini yang masih di tengah pandemi yang tak kunjung usai dan mau sampai kapan akan selesai. Kami mulai dari sebuah pertemuan, lalu berkenalan dan saling bertegur sapa, namun mengakhirinya tanpa adanya perpisahan, lalu pergi tanpa meninggalkan pesan. Kurang lebih seperti itu gambaran kondisi yang harus kami jalani dan memang mau tidak mau harus dapat menerima konsekuensinya. Ketika semuanya terasa begitu sulit, mungkin ini jalan terbaik yang harus kami tempuh untuk melewatkan momen dari perayaan. Kelak di kemudian hari akan ada ganti yang sepadan untuk kita, bahkan bisa lebih dari ini. Maka dari itu, disini saya ingin berbagi cerita sebagai angkatan 2021 yang lulus tanpa perpisahan.
Senin (3/5/21), hari pengumuan kelulusan siswa kelas 12 diberitahukan secara online melalui laman website sekolah. Pada pukul 16.00 WIB sudah dapat diakses dan dilihat hasilnya, lantas bagaimana hasilnya? sebelum dibuka pun sebenarnya sudah sangat yakin lulus. Alhasil memang benar ketika dilihat, saya dinyatakan LULUS dari satuan pendidikan berdasarkan kriteria kelulusan SMA Negeri 2 Purbalingga Tahun Pelajaran 2020/2021. Akan tetapi, ini bukan hanya sekadar lulus begitu saja, melainkan tentang pencapaian hasil belajar kami selama ini. Apakah sudah sesuai target? Apakah sudah sesuai apa yang diharapkan? Dan, apakah diri ini sudah jauh lebih baik atau masih sama saja? Apapun hasilnya memang harus disyukuri. Berbanggalah terhadap pencapaian yang sudah didapat, meskipun nantinya terkesan belum maksimal, selagi masih ada kesempatan maka teruslah berusaha meningkatkan level kemampuan kita sehingga menjadi versi diri yang jauh lebih baik daripada sekarang.
Pada hari itu ucapan dan doa pun kian berdatangan, mulai dari Bapak/Ibu guru, orang tua, teman, tetangga, dan saudara. Mereka semua turut senang dan teriring do’a terbaik tentunya, untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi dengan harapan tidak merasa cepat puas dan berhenti sampai di sini saja. Akan tetapi, asahlah terus kemampuan dan gali potensi yang ada pada diri sampai benar-benar ahli agar nantinya dapat menjadi bekal dan bermanfaat bagi orang lain.
Selain itu, ada pula kelas yang membuat perayaan kecil-kecilan sekaligus acara buka bersama, tak terkecuali kelasku. Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur mereka atas perjuangan yang terhitung kurang dari tiga tahun lamanya. Perjuangan yang rasanya begitu sebentar, tepatnya setelah diumumkan libur dua minggu. Semuanya terasa hampa, karena hanya satu setengah tahun di sekolah dan selebihnya menjalani rangkaian kegiatan belajar mengajar dari rumah (daring) melalui platform media digital yang mendukung proses pembelajaran tersebut. Selama itu, sangat terasa sebuah perbedaan yang terjadi, merasakan hilangnya kehangatan bersama di dalam kelas yang tidak seperti biasanya. Tak adanya canda tawa sampai tertawa terbahak-bahak, sering hilangnya pulpen di kelas sampai anak satu kelas dituduh, dan mencontek diam-diam waktu guru tidak melihat. Kini semua kenangan itu sirna dan terlawat begitu saja, ketika di rumah justru hanya rasa jenuh yang datang mengahampiri.
Banyak pula kegiatan-kegiatan sekolah yang terpaksa harus ditiadakan mengingat berbahaya jika tetap dilaksanakan. Dapat dibayangkan bukan? Karena pandemi Covid-19 semuanya berubah, entah dari segi apapun itu. Banyak rencana yang menjadi wacana, perjalanan yang terpaksa harus ditunda, dan banyak momen yang kami lewatkan bersama. Betapa susahnya kami sebagai angkatan 2021 yang harus dapat bertahan dan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun kenangan manis itu hilang, namun bukan hal yang harus ditangisi. Hal yang jauh lebih penting adalah sudah dapat melewati semua kejadian demi kejadian itu yang justru membuat kita menjadi lebih kuat. Anggap semua itu adalah rezeki untuk kita agar senantiasa lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh sang Maha Kuasa.
Amat sangat disayangkan jika harus merayakan acara kelulusan tanpa ada perpisahan, kurang lengkap rasanya dan untuk kali kedua tak merasakannya. Pada tahun angkatan 2020 (Blakasuta) adalah momen di mana seharusnya dapat menyaksikan secara langsung wisuda kakak kelas. Begitu pun tahun ini, tahun angkatan kita (Cakrawangsa) di wisuda bersama-sama. Tampaknya semesta memang belum merestui, sehingga pelepasan pada tahun ini akan dilaksanakan secara virtual di rumah masing-masing. Namun, ini bukan perpisahan yang sebenarnya diharapkan. Sisa waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan catatan akhir cerita di masa SMA. Saat yang sudah dinanti-nantikan untuk menghabiskan waktu bersama, duduk bersama, mengenakan pakaian jas dan kebaya, saling bercengkrama, dan lain sebagainya, kini semua itu hanyalah angan-angan saja.
Mengutip lirik dari lagu Sampai Jumpa – Endank Soekamti, “Datang Akan Pergi, Lewat Kan Berlalu, Ada Kan Tiada Bertemu, Akan Berpisah”. Lirik dari lagu itu sepertinya cukup mewakili perasaan kita saat ini. Kita tahu dan mari sepakat bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, baik itu dengan keluarga, saudara, teman, dan lain lagi. Salah satunya momen kelulusan sekolah pun identik dengan perpisahan. Acara perpisahan sekolah barangkali akan menjadi waktu terakhir kita bertemu dengan kawan-kawan ataupun guru di sekolah dan menjadi momen mengharukan yang tak mudah dilupakan. Oleh karena itu, dapat dibayangkan perasaan membuncah dan wajah bercucuran air mata mungkin akan kita rasakan ketika menghadiri acara itu.
Lulus tanpa perpisahan memang agak menyakitkan. Adanya pandemi yang mengharuskan kita seperti ini, disinilah pendewasaan harus dilakukan untuk sedikitnya mengobati rasa pilu di hati. Setidaknya ego pada diri kita harus bisa diredam demi kebaikan bersama, karena pada dasarnya sudah ada yang menggariskan dan menentukan seperti apa dan harus bagaimana. Tidak adanya perpisahan bukan permasalahan yang begitu besar. Kita hanya kehilangan satu momen diantara sekian momen yang sudah kita lewatkan bersama-sama. Mungkin lain waktu diadakan reuni atau semacamnya. Lantas, kini yang harus kita perbuat adalah menerima dan saling mendo’akan satu sama lain, semoga kita semua dapat berhasil menggapai impian yang diinginkan dan sukses di masa depan.
Sekali lagi, selamat lulus kawan-kawanku sekalian. Masa putih abu-abu kini sudah berakhir kawan. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian di kehidupanku. Terima kasih sudah bersedia mengukir kenangan menggunakan penamu sendiri, melukis dan mewarnai dengan warna yang kamu sukai saat bersamaku. Aku senang mengenalmu dan aku berharap ketika suatu saat nanti kita bertemu, satu kalimat yang ingin kudengar, “Hai, kamu sekarang masih asik seperti yang kukenal dulu.”
Selesai dan Sampai Jumpa..
Berpisah bukan berarti diakhiri segalanya. 3 tahun tak terasa, dan saatnya menata tujuan masing-masing tanpa melupakan yang pernah berjuang bersama. Sukses selalu kawan :))
BalasHapusTetap semangat dan sukses selalu ✊
Hapussemangat bos
BalasHapusSemangat terus
Hapus